Catatan untuk para simpatisan: Hoaks Datang Akal Hilang

Jika memang kita berniat serius untuk mereduksi dampak merusak hoaks politik pada pilpres 2019, apalagi yang berbau SARA, kita mesti belajar dari pilpres Amerika Serikat 2008. Saat integritas dan sikap kenegarawanan calon presiden lebih utama dari sekedar urusan menang kalah.

Saat sesi “Town Hall” di Lakeville Minnesota, dalam rangkaian pemilihan presiden 2008, seorang wanita paruh baya menyampaikan pernyataan kepada John McCain, “Saya tidak percaya Obama. Saya sudah membaca soal dia, dia itu, um, orang Arab,..” dengan cepat John McCain langsung mengambil microphone dari tangan wanita tersebut sambil menggeleng dan menjawab “Tidak, Bu”, kemudian meneruskan “Dia [Obama] adalah seorang pria penyayang keluarga dan warga yang baik, hanya saja saya punya banyak perbedaan pendapat yang mendasar dengannya, dan kampanye ini adalah tentang itu. Dia bukan orang Arab.

Begitulah, senator John McCain yang saat itu merupakan kandidat presiden Amerika Serikat dari partai Republik membela lawannya, Barack Obama, kandidat presiden dari partai Demokrat. Tanpa ragu, John McCain mengoreksi informasi hoaks tentang Obama yang disampaikan oleh pendukungnya sendiri. Meskipun akhirnya kalah dalam kontestasi pilpres Amerika Serikat 2008, John McCain telah membuktikan bahwa dirinya adalah seorang negarawan.

Berbiaknya rumor politik

Dalam demokrasi terbuka yang menganut sistem pemilihan langsung, one man one vote, memenangkan opini pemilih adalah yang utama. Peserta pemilu dan pendukungnya memproduksi banyak informasi untuk mempengaruhi opini pemilih,  yang berisi dua poin utama, informasi baik tentang kandidat yang didukung dan/atau yang tidak baik tentang lawannya. Tujuannya membuat mereka yang ragu menjadi yakin atau yang tadinya berada di pihak lawan untuk menggeser dukungan.

Mensosialisasikan kekurangan lawan adalah hal yang sah dalam demokrasi, khususnya terkait program kerja asal sesuai fakta dan data.

Sayangnya tidak demikian fakta di lapangan, banyak informasi dan rumor tidak benar beredar luas tidak hanya tentang program kerja kandidat, seperti yang baru terjadi di Karawang, hoaks berbau SARA juga digunakan untuk memenangkan hati pemilih. Minggu (24/2/2019) tiga orang yang kemudian diidentifikasi sebagai bagian relawan PEPES Prabowo-Sandi di Karawang ES, IP dan CW diamankan karena diduga menyampaikan berita bohong dalam video sosialisasi kampanye dengan menyebut soal larangan adzan jika Jokowi terpilih. (Kompas, 26/02/2019)

Melihat cara mereka yang begitu polos memvideokan sosialisasi kampanye kemudian mengunggahnya ke media sosial, saya cukup yakin bahwa mereka tidak sepenuhnya tahu sedang melakukan kampanye hitam. Mereka tidak tahu jika yang mereka sampaikan adalah hoaks dengan konsekuensi pidana. Itu artinya kemungkinan mereka  mempercayai apa yang mereka sampaikan itu adalah hal yang mengandung kebenaran. Pertanyaanya kemudian, kenapa ES, IP dan CW bisa percaya pada rumor absurd Jokowi melarang adzan? Hal yang bagi kita sangat menggelikan dan tak masuk akal. Jawabannya, ada pada cara kita berkomunikasi dalam kelompok.

Memahami makhluk penggosip

Ternyata gosip tak sekedar kegiatan percuma, ia telah bertahan, diwariskan, dan berperan penting sepanjang garis evolusi kita. “Keberhasilan bertahan hidup Homo Sapiens sebagai spesies didorong oleh kemampuanya dalam berbahasa, yang sebagian besar menjadi cara bergosip” (Harari, 2011:26). Kerjasama sosial adalah kunci bertahan Homo Sapiens yang hidup dalam kelompok. Dalam satu kelompok beranggotakan puluhan, terdapat ratusan hingga ribuan hubungan personal. Pertukaran informasi dengan bergosip membantu mereka untuk mengetahui seluk-beluk kawanan, memetakan siapa yang harus didekati atau dijauhi. Pengetahuan kita terhadap orang/peristiwa di luar kita sangatlah terbatas sehingga kita bergantung pada “gosip” yang didapatkan dari orang lain sebagai sumber pengetahuan untuk membuat keputusan.

Meski berjarak puluhan ribu tahun, ternyata kita masih menggunakan metode yang sama untuk mendapatkan informasi hingga hari ini. Lihat saja apa yang biasanya kita bicarakan di pantry kantor, pos ronda, atau grup Whatsapp. Kenapa? Karena pada dasarnya kita tetap hidup dalam kawanan-kawanan besar saat di sekolah, di RT, atau di komunitas sepeda. Sehingga kita tetap membutuhkan kemampuan bergosip untuk bisa bertahan dalam kawanan besar, yang akibatnya kewaspadaan kita saat menerima informasi juga berkurang dan terjebak dalam bias kelompok. Demikian juga saat kita ingin tahu calon presiden mana yang lebih baik, kita mengandalkan informasi dari orang lain karena kita tidak kenal langsung dengan kandidat.

Kita perlu menempatkan ES, IP dan CW, sebagai bagian dari sebuah kawanan besar yang juga secara aktif bergosip untuk mendapatkan informasi. Berbeda dengan kita yang netral, sebagai pendukung/simpatisan mereka mudah terjebak dalam confirmation bias , sehingga ketika mendapatkan gosip yang mendukung apa yang mereka yakini mereka dengan mudah percaya. Saat mereka mendapat informasi yang mendiskreditkan Jokowi mereka akan mudah percaya karena termotivasi dukungan kepada Prabowo.

Sulit bagi para simpatisan untuk keluar dari jerat ini, bahkan bagi mereka yang awalnya tidak percaya pada rumor tersebut lambat laun akan terbawa tekanan “konformitas” kelompok. Jika semua orang di sekeliling Anda mempercayai sebuah rumor,  Anda akan percaya juga pada akhirnya, karena Anda tidak ingin merasa berbeda. Inilah kenapa sebabnya kelompok pendukung sangat rentan terjebak pada hoaks sekalipun itu sangat absurd. Dan karena proses dalam kelompok yang seperti ini, kepercayaan pada sebuah rumor akan terus menempel dan sulit untuk dihilangkan. Akibatnya, jika proses ini terjadi pada dua kubu, polarisasi kelompok yang semakin tajam akan terjadi dan sulit dihindarkan.

Hilangnya nalar kritis

Tidak tepat jika dikatakan hoaks dibuat orang pintar dan disebar oleh orang bodoh. Hanya dengan melihat kejadian beberapa bulan ke belakang kita akan tahu, banyak orang pintar bahkan tokoh nasional dengan begitu mudahnya terpedaya hoaks. Kita mudah terpedaya bukan karena kita punya alasan kuat untuk mempercayainya melainkan karena kita tidak punya alasan kuat untuk tidak mempercayainya. Karena saat mendapat sebuah informasi yang menyenangkan, secara alamiah otak kita menjadi lengah. Kita menyebut keadaan ini dengan cognitive ease. Otak manusia bekerja dengan dua mekanisme,  Sistem 1 yang lebih intuitif dan Sistem dua yang lebih effortful. “Saat seseorang merasa senang dia kehilangan kontrol terhadap sistem 2, hal itu membuat mereka lebih intuitif dan kreatif tetapi juga tidak waspada dan cenderung mudah membuat kesalahan logika”. (Kahneman, 2011:69)

Itulah mengapa pendukung/simpatisan pasangan calon presiden paling rentan untuk termakan hoaks. Mereka sangat termotivasi untuk melihat jagoannya menang, sehingga saat mendapat sebuah kabar yang menguntungkan kandidat yang didukung dia akan merasa senang. Kemampuan untuk melakukan analisa hati-hati mendadak hilang, seketika itu juga klik share atau like. Proses seperti ini terus terjadi dalam kelompok sehingga yang tadinya hanya desas-desus dianggap kebenaran. Ambilah contoh isu Jokowi beretnis Cina/Tionghoa, Laporan Temuan Survei Nasional  Indikator (08/01/2019) menunjukkan sekitar 23% responden tahu atau pernah mendengar hal tersebut. Dari jumlah tersebut 24% percaya, 18% tidak tahu/tidak jawab dan 58% tidak percaya. Sudah bisa ditebak, dari 24% yang percaya isu ini didominasi oleh pendukung Prabowo.

Tidak ada pil manjur yang bisa menetralisir semua rumor/hoaks yang telah tersebar. Membuat klarifikasi dengan menunjukkan fakta sebenarnya mungkin akan mampu meyakinkan mereka yang netral, tetapi itu tidak akan mempan bagi pendukung calon yang telah memiliki kepercayaan mendalam terhadap hoaks/rumor. Lalu bagaimana caranya? menurut Sunstein (2009:53) “Cara terbaik untuk meredam rumor adalah dengan menunjukkan bahwa mereka yang kelihatannya percaya ternyata menentangnya.” Bagi pendukung/simpatisan, mendengar klarifikasi  langsung dari yang mereka percayai dan menjadi rujukan identitas mereka sangatlah penting, seperti yang dilakukan John McCain.

Untuk bisa efektif, setiap hoaks yang mendiskreditkan Pak Prabowo seharusnya dijawab oleh Pak Jokowi dan sebaliknya. Dan kembali ke pertanyaan awal, jika kita memang ingin serius mereduksi dampak merusak hoaks politik di pemilu 2019, kedua pasangan calon harus berani menunjukkan bahwa integritas dan sikap kenegarawanan berada di atas urusan menang kalah. Jangan lagi ragu menegur pendukung sendiri yang percaya pada hoaks apalagi yang berbau SARA. Pemilu ini sejatinya adalah ujian bagi kedua pasangan calon, apakah mereka berdua benar seorang negarawan atau memang hanya dua pasang kontestan?

Leave A Comment

Please be polite. We appreciate that. Your email address will not be published and required fields are marked