Membedakan golput, dari yang ideologis hingga partisan malu-malu

Menjelang pemilihan presiden 2019 hembusan percakapan golput semakin meningkat. Kini banyak semkain banyak yang memasang profile picture #SayaGolput di laman media sosial mereka. Di tengah popularitasnya, masih banyak yang tidak paham bahwa tidak semua golput itu sama, mereka memiliki garis definitifnya masing-masing.

Sebelum mulai, perlu saya tegaskan, as a disclaimer, bahwa ini adalah analisa sederhana hanya berdasar riset linimasa dan tebaran berita media. Jika ada yang tidak sependapat ya biasa saja, karena tulisan ini memang bukan dimaksudkan untuk menyamakan pendapat.

Perlu digaris bawahi bahwa golput adalah hak politik yang bisa digunakan oleh warga negara Indonesia. Indonesia juga tidak menerapkan Compulsory Voting [1] untuk “memaksa” warga negaranya menggunakan hak pilih guna meningkatkan angka partisipasi.

Jadi, menurut saya kira-kira golput di pemilu presiden 2019 bisa dikelompokkan menjadi beberapa golongan.

1. Kelompok Ideologis

Sama seperti namanya, kelompok ini adalah mereka yang memilih untuk golput (menolak pemilu) karena alasan yang fundamental, baik kanan maupun kiri. Yang paling ekstrem adalah mereka yang memang pada dasarnya tidak mengakui keberadaan Indonesia atau proses pemilu, contohnya kelompok separatis atau gerakan transnasional seperti ISIS. Ibaratnya seorang vegetarian, tidak ada faedahnya bagi mereka menghabiskan tenaga untuk memilih lebih baik daging kambing dijadikan sate atau tongseng.

Kelompok golput ideologis lain sedikit berbeda, biasanya mereka adalah aktivis penggiat isu-isu kemanusiaan yang melihat bahwa pemilu tidak membuat perbedaan. Yang paling populer adalah mereka yang menentang oligarki politik yang menguasai hampir seluruh instrumen politik di Indonesia. Ibaratnya, mereka tidak ingin memilih sate atau tongseng karena mereka tidak yakin daging kambing yang ada sehat dan bebas dari penyakit.

2. Kelompok patah hati

Pemilu kali ini merupakan rematch dari pertandingan 2014 dengan calon presiden yang sama. Meskipun menghadirkan calon wakil presiden yang baru pada dasarnya penyokong kedua pasangan tidak banyak berubah. Karena ini merupakan tanding ulang, jadi juga mudah untuk membuat perbandingan berdasar perkembangan 5 tahun yang telah berlalu. Meskipun ada yang berasal dari kubu Prabowo, tetapi kelompok golput patah hati ini lebih didominasi pendukung Jokowi 2014 yang kecewa melihat kinerja dan/atau sikap politiknya.

Salah satu kelompok patah hati yang dominan adalah mereka yang kecewa dengan kinerja penegakan HAM diera Jokowi. Ada dua arus utama dalam kelompok ini, pertama, mereka yang dulu berharap Jokowi bisa menuntaskan pelangaran HAM masa lalu dan membersihkan pemerintahan daripengaruh orba kecewa ternyata justru Jokowi dikeliligi banyak pentolan orba yang terindikasi melakukan pelangaran. Arus kedua adalah kelompok yang merasa Jokowi lembek terhadap kelompok intoleran yang menguasai opini politik. Memori ini terekam kuat dari kasus Ahok dan semakin menjadi saat tahu Jokowi memilih Ketua MUI menjadi calon wakilnya.

3. Kelompok ganis a.k.a gagal teknis

Singkatnya ini adalah kelompok yang tidak beruntung saja, meskipun ada juga yang karena kemalasan atau suka menunda. Kelompok ini menjadi golput karena alasan teknis, misalnya tempat domisili KTP berbeda dengan tempat tinggal/bekerja saat ini. Kemudian tidak sempat atau terlupa untuk mengurus formulir A5 yang menunjukkan mereka pindah tempat memilih. Atau bisa saja, sebenarnya dia sudah mau memilih dan siap segala persyaratannya tetapi tepat pada hari pemilihan ada hal mendadak lain yang membuat mereka tidak bisa memilih. Sekali lagi mereka ada niat tetapi tidak ada kesempatan.

4. Kelompok partisan malu-malu

Menurut saya ini adalah kelompok paling unik dan sulit untuk dideteksi jika tidak jeli melihat. Diantara mereka yang begitu nyaring menyatakan golput atau sedikit lebih halus “netral” jika kita bersedia mengamati dengan jeli akan terlihat bahwa itu hanya framing opini saja. Mengapa saya sampaikan demikian, karena wacana golput bisa mengerus angka undecided voters yang merupakan kelompok dominan pemilih. Tentu saja yang paling merugi adalah calon petahana karena tingginya wacana golput bisa diartikan pemeritahannya tidak berjalan dengan baik. Saya rasa ini juga alasan kenapa buzzer petahana sangat giat melawan kampanye golput.

Lalu bagaimana kita bisa mengidentifikasi kelompok ini. Caranya mudah saja, lihatlah frekuensi like/retweet/share di akun media sosial mereka. Jadi, misalkan ada seseorang selalu mengaku netral atau golput tetapi dominasi pesan yang diamplifikasi melalui media sosial selalu menguntungkan pasangan A dan tidak menguntungkan pasangan B, maka bisa dipastikan ia adalah partisan malu-malu pasangan A dan sebaliknya. Banyak pesohor (bahkan aktivis) yang terjebak pada kategori ini, netral/golput hanya diucapan tetapi sejatinya partisan sejak dalam pikiran.

5. Kelompok apatis

Sebenarnya ini adalah kelompok golput paling dominan dibandingkan dengan kelompok lainnya. Mereka tidak menempatkan pemilu sebagai sesuatu yang penting dan harus dipikirkan atau diusahakan. Mungkin mereka tidak merasa pemilu ada manfaatnya dibandingkan pergi bekerja atau bermain. Mereka tidak punya landasan ideologis atau kekecewaan politik apapun, kebanyakan hanya sekedar malas saja.

[1] https://www.psa.ac.uk/insight-plus/beyond-turnout-consequences-compulsory-voting

Leave A Comment

Please be polite. We appreciate that. Your email address will not be published and required fields are marked